Perairan Selat Bali menjadi panggung adu ketangkasan bagi puluhan pelaut tradisional pada Minggu (19/4/2026).
Sebanyak 45 unit perahu layar berkompetisi dalam ajang balap yang dipusatkan di Pantai Bulusan, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.
Lomba ini menjadi ujian ketangguhan bagi para peserta karena adanya aturan ketat yang melarang penggunaan mesin. Para pelaut hanya diperbolehkan mengandalkan kekuatan angin serta kemahiran mengendalikan layar untuk mengarungi selat yang memisahkan Pulau Jawa dan Bali tersebut.

Para peserta memulai perlombaan dari Pantai Bulusan. Mereka harus menyeberangi derasnya arus Selat Bali menuju titik putar di Gilimanuk, Jembrana, Bali, sebelum akhirnya kembali ke garis finis di tempat semula.
Selain menjadi ajang kompetisi, kegiatan ini merupakan tradisi turun-temurun yang terus dilestarikan oleh masyarakat pesisir. Lomba ini juga berfungsi sebagai sarana silaturahmi antar-nelayan sekaligus simbol penghormatan terhadap kearifan alam dan budaya maritim lokal.
Kasatpolairud Polresta Banyuwangi, Kompol Mochammad Wahyudi, memastikan jalannya perlombaan berlangsung aman. Berdasarkan pantauan di lapangan, seluruh peserta dapat mengikuti rangkaian kegiatan tanpa kendala teknis maupun keamanan.

”Kondisi cuaca bersahabat dan ombak dalam kondisi normal dengan ketinggian antara 0,5 hingga 1 meter,” ujar Kompol Wahyudi.
Mengingat Selat Bali merupakan jalur pelayaran padat yang menghubungkan Ketapang dan Gilimanuk, pihak Kepolisian Perairan melakukan pengawalan ketat di sepanjang rute lomba. Hal ini dilakukan guna menjamin keselamatan peserta dari lalu lintas kapal feri.
Hingga berita ini diturunkan, seluruh perahu dilaporkan telah kembali ke daratan dalam kondisi selamat.
Tim liputan p1news.






















